. Di Bawah Bayang Rudal Doha: Jerit Mahasiswi IIB Darmajaya di Tengah Konflik AS–Israel vs Iran

PENDIDIKAN24 Dilihat

QATAR (DOHA) — Langit Doha yang biasanya tenang dan berkilau oleh gemerlap gedung-gedung modern kini terasa berbeda. Sirene peringatan dan notifikasi darurat di telepon genggam menjadi bunyi yang paling ditunggu sekaligus ditakuti. Di tengah situasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ribuan warga negara Indonesia di Qatar hidup dalam kecemasan yang tak pernah benar-benar reda.

 

Hani Shafa Fadillah, mahasiswi Prodi Manajemen Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, menjadi salah satu saksi hidup suasana mencekam itu. Sejak konflik memanas, ia belum bisa kembali ke Indonesia untuk mengikuti perkuliahan. Penerbangan dihentikan, dan ruang udara ditutup demi alasan keamanan.

 

“Assalamualaikum Pak, mohon maaf belum bisa mengikuti perkuliahan. Saya belum bisa pulang ke Indonesia karena situasi perang di Timur Tengah,” tulis Hani dalam pesannya Rabu, (4/3/26).

 

Dia meminta izin untuk mengikuti kuliah secara daring atau menerima tugas pengganti, sembari memohon doa untuk seluruh WNI di kawasan tersebut. Bandara utama negara itu, Hamad International Airport, ditutup sementara. Sekitar 8.000 WNI dilaporkan terjebak karena hendak transit dari Doha. Total warga Indonesia di Qatar diperkirakan mencapai 38.000 orang, dan semuanya kini berada dalam bayang-bayang eskalasi konflik regional.

 

Setiap hari, Hani dan keluarganya menerima peringatan darurat di ponsel ketika ada potensi rudal yang melintas dari arah Iran. Notifikasi itu muncul tiba-tiba, memerintahkan warga untuk waspada dan tetap berada di dalam rumah. “Mencekam, Pak. Setiap hari ada warning di HP ketika ada bahaya atau missiles Iran datang,” ungkapnya, sembari mengirim foto layar ponselnya setelah mendapat warning dari pemerintah Qatar.

 

Hani menjelaskan dari pusat Kota Doha, jarak ke Pangkalan Militer Al Udeid sekitar 28 kilometer. Pangkalan ini dikenal sebagai salah satu fasilitas militer terbesar milik Amerika Serikat di kawasan Teluk, yakni Al Udeid Air Base. Kedekatan jarak itu membuat rasa cemas semakin nyata.

 

Di rumah mereka, Hani tinggal bersama ibu, ayah, kakak, dan adiknya. Sang ayah bekerja di salah satu perusahaan minyak di Qatar, sektor strategis yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut. Sejak 2022, keluarganya menetap di sana, sementara Hani kerap bolak-balik Qatar–Indonesia demi menyelesaikan kuliahnya di kampus biru IIB Darmajaya.

 

Kini, mobilitas itu terhenti. Tidak ada kepastian kapan bandara kembali dibuka. Tidak ada kepastian kapan situasi benar-benar aman. Yang ada hanya imbauan resmi dari pemerintah Qatar agar warga tidak panik dan selalu mengikuti arahan otoritas setempat.

 

Namun imbauan untuk tenang tak selalu mampu meredam kegelisahan. Warga bergegas mengisi kebutuhan logistik, membatasi aktivitas di luar rumah, dan memperbanyak komunikasi dengan keluarga di tanah air. Grup-grup percakapan WNI dipenuhi kabar terbaru dan saling menguatkan.

 

Bagi Hani, yang paling berat adalah ketidakpastian akademiknya. Sebagai mahasiswi aktif, ia merasa bertanggung jawab untuk tetap mengikuti perkuliahan. Di tengah suara sirene dan notifikasi ancaman rudal, ia masih memikirkan tugas, absensi, dan masa depannya.

 

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memang bereskalasi di sejumlah titik Timur Tengah. Meski Qatar bukan medan perang langsung, posisi strategisnya serta keberadaan pangkalan militer asing membuat negara kecil itu ikut merasakan getar dampaknya.

 

Setiap malam, keluarga Hani memilih berkumpul di satu ruangan, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu situasi memburuk. Doa menjadi penguat utama. “Mohon doanya buat kami semua WNI yang ada di Timur Tengah. Doakan kami selamat,” kata dia lirih.

 

Di balik kemegahan Doha sebagai kota global, ada ketakutan yang kini bersemayam di sudut-sudut rumah para perantau. Mereka bukan tentara, bukan diplomat, melainkan pekerja dan mahasiswa yang hanya ingin hidup dan belajar dengan tenang.

 

Perang mungkin terjadi karena kepentingan geopolitik, tetapi dampaknya merambat hingga ruang-ruang pribadi: ruang keluarga, ruang belajar, dan ruang harapan. Hani adalah satu dari puluhan ribu WNI yang kini menunggu, antara cemas dan pasrah.

 

Dan di setiap bunyi notifikasi peringatan di layar ponselnya, ada satu harapan yang tak pernah padam: semoga langit Doha kembali sunyi, bandara kembali dibuka, dan ia bisa pulang ke kampus dengan cerita tentang bagaimana ia bertahan di bawah bayang rudal. (**)