Pelantikan JMSI Sumbar 2026: Perkuat Barisan Media Siber, Lima Tokoh Raih JMSI Awards

NASIONAL16 Dilihat

PADANG — Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumatera Barat memasuki babak baru. Pelantikan kepengurusan JMSI Sumbar 2026 menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan komitmen untuk memperkuat peran perusahaan pers dalam membangun ekosistem media siber yang profesional, kredibel dan bertanggung jawab.

 

Tak hanya pelantikan, momentum tersebut juga dirangkai dengan JMSI Awards 2026, sebuah penghargaan yang diberikan kepada sejumlah tokoh dari berbagai bidang yang dinilai memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah.

 

Lima nama dengan kiprah berbeda menerima penghargaan. Mereka berasal dari dunia politik, lingkungan hidup, kebencanaan, usaha menengah kecil hingga pendidikan di daerah terpencil.

 

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Di dalamnya terdapat pesan bahwa keberadaan media tidak hanya berkaitan dengan pemberitaan, tetapi juga bagaimana pers memberikan apresiasi kepada orang-orang yang bekerja dan berkontribusi bagi kepentingan masyarakat.

 

Aguswanto Pimpin JMSI Sumbar

 

Pelantikan JMSI Sumbar 2026 sekaligus menandai kehadiran kepengurusan baru yang diharapkan mampu membawa organisasi semakin solid dan adaptif menghadapi perkembangan industri media digital.

 

Aguswanto dipercaya memimpin JMSI Sumbar. Sebelum menjadi ketua, Aguswanto merupakan sekretaris Pengda JMSI Sumbar pada periode sebelumnya.

 

Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam melanjutkan konsolidasi organisasi serta memperkuat hubungan antarpelaku perusahaan pers di Sumatera Barat.

 

Dalam kepengurusan baru, posisi sekretaris dipercayakan kepada Almudazir, owner Mimbar Media Grup yang juga merupakan Ketua PJKIP Sumatera Barat.

 

Sementara posisi bendahara umum ditempati Yofialdi. Selain menjabat Direktur Utama Valoranaews Grup, Yofialdi juga dipercaya sebagai Presidium KAHMI Sumbar periode 2026–2031 dan Ketua Pengprov Squash Sumbar periode 2026–2031.

 

Komposisi tersebut diharapkan mampu memperkuat organisasi, baik dari sisi pengelolaan perusahaan pers maupun jejaring kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat.

 

Bagi JMSI Sumbar, tantangan media siber ke depan bukan semakin ringan. Perubahan teknologi, persaingan mendapatkan perhatian publik, derasnya arus informasi dan maraknya informasi yang belum terverifikasi menuntut perusahaan pers meningkatkan kualitas dan profesionalisme.

 

Ketua JMSI Sumbar Aguswanto menegaskan, pelantikan bukanlah tujuan akhir.

 

Menurutnya, organisasi harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan pers dan masyarakat.

 

“Kita ingin JMSI tidak hanya hadir sebagai organisasi, tetapi benar-benar memberikan kontribusi. Media harus tumbuh bersama daerah, mengawal pembangunan, mengkritisi kebijakan yang perlu dikritisi, dan pada saat yang sama memberikan informasi yang mencerdaskan masyarakat,” ujar Aguswanto.

 

Lima Tokoh Terima JMSI Awards 2026

 

Di tengah momentum pelantikan tersebut, perhatian juga tertuju pada JMSI Awards 2026.

 

Lima tokoh dianugerahi penghargaan atas kiprah dan kontribusi mereka di bidang masing-masing.

 

Penghargaan ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi JMSI Sumbar terhadap figur-figur yang dinilai memberikan dampak positif bagi masyarakat.

 

Ketua Tim Penilai Anugerah JMSI Award, Dr. Hary Efendi Iskandar, mengatakan proses penilaian menjadi bagian penting untuk memastikan penghargaan diberikan kepada sosok yang benar-benar memiliki rekam kontribusi dan pengabdian bagi masyarakat.

 

Karena itu, penghargaan tidak semata-mata melihat popularitas seorang tokoh. Ada nilai pengabdian, konsistensi, manfaat dan dampak yang menjadi perhatian dalam menentukan penerima Anugerah JMSI Award.

 

Arisal Aziz — Tokoh Publik Terpilih

 

Arisal Aziz, anggota DPR RI, menerima penghargaan sebagai Tokoh Publik Terpilih.

 

Penghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi terhadap kiprahnya di ruang publik dan perannya sebagai wakil masyarakat di tingkat nasional.

 

Kehadiran tokoh publik dalam JMSI Awards juga menunjukkan bahwa hubungan media dengan pemangku kepentingan tidak semata-mata berada dalam ruang pemberitaan, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi publik yang sehat.

 

Dewi Sukmawati — Tokoh Peduli Lingkungan

 

Berikutnya, Dewi Sukmawati menerima penghargaan sebagai Tokoh Peduli Lingkungan.

 

Dedikasinya dalam menginisiasi bank sampah menjadi salah satu perhatian dalam pemberian penghargaan tersebut.

 

Bank sampah bukan hanya berkaitan dengan persoalan pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.

 

Gerakan yang dimulai dari masyarakat tersebut memiliki nilai penting karena persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi publik.

 

Patra Rina Dewi — Tokoh Penanganan Bencana

 

Untuk kategori Tokoh Penanganan Bencana, penghargaan diberikan kepada Patra Rina Dewi, pendiri KOGAMI Sumatera Barat.

 

Dedikasinya dalam bidang kebencanaan mendapat apresiasi karena persoalan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana merupakan kebutuhan penting bagi Sumatera Barat.

 

Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kerja-kerja kebencanaan membutuhkan kepedulian, edukasi dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

 

Ronal Wahtudi — Penggerak Usaha Menengah Kecil

 

Ronal Wahtudi, pengusaha kopi, menerima penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Menengah Kecil.

 

Kiprahnya dalam dunia usaha menjadi bagian dari geliat ekonomi masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian.

 

Usaha menengah dan kecil memiliki posisi penting dalam menggerakkan perekonomian daerah. Di balik sebuah usaha terdapat lapangan pekerjaan, rantai ekonomi serta peluang bagi masyarakat untuk berkembang secara mandiri.

 

Melalui penghargaan ini, JMSI Sumbar memberikan perhatian terhadap tokoh yang ikut menggerakkan sektor ekonomi dari bawah.

 

Rabiatul Adawiyyah — Mengajar di Ujung Negeri, Tanpa Gaji

 

Namun, ada satu kisah yang membuat JMSI Awards 2026 terasa berbeda.

 

Di antara nama-nama penerima penghargaan, terdapat Rabiatul Adawiyyah, seorang pengajar di Desa Matotonan, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

 

Ia menerima penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan.

 

Matotonan bukan sekadar sebuah nama desa di peta Sumatera Barat.

 

Wilayah ini berada di kawasan 3T — tertinggal, terdepan dan terluar. Akses, jarak dan kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.

 

Di tempat seperti itulah Rabiatul Adawiyyah memilih mengabdikan dirinya.

 

Ia mengajar anak-anak di Matotonan tanpa menerima gaji sedikit pun.

 

Tidak ada kepastian materi yang menjadi alasan ia bertahan. Tidak ada kemewahan fasilitas yang menjadi daya tarik. Yang ada adalah keinginan untuk memastikan anak-anak di wilayah 3T tetap memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan.

 

Di saat sebagian orang mungkin mengukur pengabdian dari besarnya imbalan, Rabiatul justru memilih jalan berbeda.

 

Ia hadir di tengah keterbatasan.

 

Mengajar.

 

Mendampingi.

 

Dan memberikan waktu serta tenaganya untuk anak-anak yang berada jauh dari pusat-pusat pendidikan.

 

Kisah tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa sosok Rabiatul Adawiyyah layak mendapat perhatian dalam JMSI Awards 2026.

 

Penghargaan itu bukan sekadar sebuah piala atau seremoni.

 

Ia menjadi bentuk penghormatan kepada seorang pendidik yang memilih mengabdi di wilayah yang tidak selalu mudah dijangkau, ketika perhatian publik terhadap daerah 3T sering kali tidak sebesar perhatian terhadap wilayah perkotaan.

 

Dr. Hary Efendi Iskandar, selaku Ketua Tim Penilai Anugerah JMSI Award, menempatkan nilai pengabdian dan dampak sosial sebagai bagian penting dalam melihat kelayakan penerima penghargaan.

 

Kisah Rabiatul memperlihatkan bahwa kontribusi terhadap bangsa tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar.

 

Kadang, kontribusi itu lahir dari ruang kelas sederhana di sebuah wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

 

Dari seorang guru yang mengajar tanpa gaji.

 

Dari seseorang yang memilih tetap hadir ketika banyak orang mungkin memilih pergi.

 

Dan dari anak-anak Matotonan yang memiliki hak yang sama untuk bermimpi tentang masa depan.

 

Karena itu, penghargaan kepada Rabiatul Adawiyyah juga dapat dibaca sebagai pesan bahwa daerah 3T tidak boleh menjadi daerah yang terlupakan.

 

Penghargaan yang Menyampaikan Pesan

 

Lima penerima JMSI Awards 2026 memiliki latar belakang yang berbeda.

 

Arisal Aziz bergerak di ruang publik. Dewi Sukmawati memperjuangkan kepedulian lingkungan. Patra Rina Dewi berkecimpung dalam penanganan bencana. Ronal Wahtudi menggerakkan sektor usaha menengah kecil. Sementara Rabiatul Adawiyyah mengabdikan diri pada pendidikan di wilayah 3T Mentawai.

 

Perbedaan tersebut justru memperlihatkan luasnya ruang pengabdian kepada masyarakat.

 

JMSI tidak hanya memberikan penghargaan kepada figur yang berada di pusat perhatian publik, tetapi juga kepada mereka yang bekerja di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi melalui bidang masing-masing.

 

Penghargaan tersebut menjadi pesan bahwa kerja nyata, kepedulian dan pengabdian layak mendapatkan tempat dalam ruang publik.

 

JMSI Sumbar dan Tantangan Pers Digital

 

Pelantikan dan JMSI Awards 2026 berlangsung di tengah perubahan besar dunia pers.

 

Media siber kini dituntut bergerak cepat, namun pada saat yang sama harus menjaga akurasi, verifikasi, keberimbangan dan etika jurnalistik.

 

Menurut Aguswanto, media tidak boleh terjebak hanya mengejar trafik dan jumlah pembaca.

 

“Ukuran keberhasilan media bukan hanya berapa banyak orang membaca berita kita, tetapi seberapa besar publik percaya bahwa informasi yang kita sajikan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

 

Karena itu, pelantikan kepengurusan baru JMSI Sumbar diharapkan menjadi titik awal untuk memperkuat perusahaan pers sekaligus meningkatkan kualitas informasi yang diterima masyarakat.

 

Pelantikan menjadi simbol konsolidasi organisasi.

 

JMSI Awards menjadi simbol apresiasi terhadap pengabdian.

 

Dan kisah Rabiatul Adawiyyah menjadi pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk dunia digital, masih ada orang-orang yang bekerja dalam senyap untuk memastikan masa depan generasi bangsa.

 

Keduanya bertemu dalam satu pesan: pers yang kuat tidak hanya mampu memberitakan mereka yang bekerja untuk masyarakat, tetapi juga mampu memberikan penghargaan kepada mereka yang telah bekerja bagi masyarakat.

 

Dengan kepengurusan baru dan semangat tersebut, JMSI Sumbar diharapkan semakin aktif mengambil bagian dalam membangun ekosistem pers yang sehat, profesional dan berintegritas.

 

Sebab, di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat membutuhkan media yang bukan hanya cepat menyampaikan berita, tetapi juga mampu menjaga kepercayaan publik.

 

Dan melalui pelantikan serta JMSI Awards 2026, JMSI Sumbar ingin menegaskan bahwa perjalanan organisasi ke depan bukan sekadar tentang siapa yang memimpin, tetapi seberapa besar manfaat yang dapat diberikan bagi pers dan masyarakat Sumatera Barat.

 

Di antara gemerlap penghargaan, ada satu pesan yang paling sunyi namun paling kuat:

 

Di ujung negeri, seorang guru tetap berdiri di depan kelas. Tanpa gaji, tanpa sorotan, tetapi dengan keyakinan bahwa anak-anak Matotonan berhak memiliki masa depan.