Babak Baru Indonesia-Rusia, Diversifikasi Pasar yang Krusial 

JAKARTA, NASIONAL68 Dilihat

JAKARTA — Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa Samudra Pasifik bukanlah pemisah melainkan “jalan raya ekonomi” antara Indonesia dan Rusia merupakan sebuah terobosan doktrin geopolitik maritim yang sangat strategis bagi kepentingan nasional Indonesia.

 

Metafora “jalan raya ekonomi” tersebut secara cerdas mendobrak hambatan mentalitas geografis yang selama ini memandang kawasan Timur Jauh Rusia (Russian Far East) sebagai wilayah yang terpencil dan sulit dijangkau oleh rantai pasok Indonesia.

 

Demikian penilaian Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, atas salah satu isi pidato Prabowo dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 yang berlangsung di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Federasi Rusia, Kamis kemarin, 3 September 2026.

 

Dalam forum ekonomi terkemuka yang berlangsung pada 1–4 September 2026 tersebut, Presiden Prabowo hadir sebagai tamu kehormatan utama (guest of honour) atas undangan langsung dari Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin.

 

“Pandangan Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin dunia di Vladivostok menunjukkan lompatan cara pandang baru yang berani dan realistis dalam memandang geopolitik kawasan Pasifik,” ujar Dr. Teguh Santosa dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 4 September 2026.

 

Kehadiran Kepala Negara sebagai pembicara utama setelah Presiden Putin dinilai Teguh membuktikan tingginya rekognisi internasional terhadap posisi tawar strategis Indonesia dalam dinamika politik dan ekonomi global.

 

Secara khusus, Teguh menyoroti kutipan pidato Presiden Prabowo: “Samudra Pasifik tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik menghubungkan kita. Ia bukanlah tembok di antara kita. Ia harus menjadi jalan raya antara dua perekonomian kita”.

 

Dengan memanfaatkan posisi geografis Indonesia yang berada di titik silang antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, langkah Presiden dinilai sangat tepat untuk mengoptimalkan akses maritim ke belahan utara Pasifik.

 

Upaya Indonesia untuk membangun jembatan kemitraan yang lebih kukuh dengan Timur Jauh Rusia dan Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU) dipandang sebagai strategi diversifikasi pasar yang krusial di tengah tren fragmentasi geoekonomi global saat ini.

 

“Selama ini interaksi perdagangan kita dengan Rusia lebih dominan melalui rute barat yang panjang, padahal gerbang Vladivostok membuka koridor langsung melalui Pasifik yang jauh lebih efisien bagi ekspor komoditas maupun produk manufaktur nasional,” papar Teguh.

 

Teguh juga menilai refleksi Presiden Prabowo mengenai kesamaan bentang geografis kedua negara, sebagai dua bangsa dengan wilayah yang sangat luas dan tantangan menjangkau kawasan perbatasan, menunjukkan empati serta kedekatan psikologis antar-kedua negara.

 

Karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan Rusia sebagai negara terluas di dunia dinilai menjadi modal pemahaman bersama dalam merancang pemerataan pembangunan hingga ke wilayah terluar. Di sisi lain, forum ini juga mempertemukan visi pembangunan Timur Jauh Rusia yang dicanangkan Presiden Putin dengan agenda ketahanan energi, pangan, dan konektivitas yang diprioritaskan oleh pemerintah Indonesia.

 

Teguh menggarisbawahi bahwa pernyataan Presiden Putin yang menyebut kawasan Asia-Pasifik sebagai pusat pertumbuhan utama dunia semakin mempertegas relevansi keterlibatan aktif Indonesia dalam forum ekonomi tersebut.

 

Langkah diplomasi Presiden Prabowo di Vladivostok, lanjut Teguh, sekaligus membuktikan keteguhan Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan non-blok yang berlandaskan kepentingan nasional.

 

“Kepemimpinan diplomasi Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia bersahabat dengan semua pihak tanpa harus terikat dalam polarisasi blok politik mana pun,” tegas pakar geopolitik tersebut.

 

Teguh menambahkan bahwa visi “jalan raya Pasifik” ini perlu segera ditindaklanjuti dengan realisasi konektivitas maritim dan rute penerbangan langsung antara kota-kota pelabuhan Indonesia dengan Vladivostok.

 

Menurutnya, penguatan armada pelayaran dan jalur logistik langsung merupakan kunci agar gagasan besar yang disampaikan Presiden di podium internasional dapat dirasakan manfaatnya secara nyata oleh para pelaku usaha di dalam negeri.

 

Sesuai dengan tema EEF ke-11, “The Far East: Development for the Benefit of the People”, Teguh berharap kerja sama ini dapat memperluas peluang investasi hilirisasi industri, ketahanan pangan, riset teknologi, serta pendidikan tinggi antara kedua negara.

 

“GREAT Institute menyambut hangat inisiatif Presiden Prabowo di Vladivostok dan meyakini bahwa keterhubungan Pasifik ini akan menjadi tonggak baru bagi kemandirian ekonomi serta kemajuan maritim Indonesia di pentas global,” pungkas Dr. Teguh Santosa. []