SDN 1 Sidoharjo Pastikan Tak Pernah Tuduh Santri dalam Insiden Kaca Pecah

LAMPUNG SELATAN19 Dilihat

Lampung Selatan, — Pihak SDN 1 Sidoharjo, Kecamatan Jati Agung, akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait isu dugaan perusakan kaca yang sempat berkembang di tengah masyarakat.

 

Sekolah menegaskan bahwa tidak pernah ada tuduhan yang diarahkan kepada pihak tertentu, termasuk santri pondok pesantren.

 

Kepala SDN 1 Sidoharjo, Enny Kurniasih, menjelaskan bahwa kejadian tersebut diketahui saat aktivitas sekolah kembali berjalan seperti biasa.

 

Saat itu, kondisi kaca sudah dalam keadaan pecah tanpa diketahui siapa pelakunya.

 

“Sekolah sampai siang, lalu keesokan harinya saat kami datang, kaca sudah dalam kondisi bolong. Kami juga tidak melaporkan ke mana-mana, hanya sebatas ke komite,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa sejak awal tidak ada bukti maupun indikasi yang mengarah kepada individu atau kelompok tertentu.

 

“Kami tidak punya bukti, jadi tidak mungkin menyimpulkan atau menuduh. Tidak pernah ada penyebutan santri dari pihak sekolah,” tegasnya.

 

Guru Bantah Pernah Menyudutkan Santri

 

Penegasan serupa disampaikan oleh salah satu guru SDN 1 Sidoharjo, Muryati, yang sebelumnya sempat disebut dalam narasi yang beredar.

 

Ia memastikan bahwa dirinya tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang menuduh santri sebagai pelaku.

 

“Saya tegaskan, saya tidak pernah menuduh santri yang memecahkan kaca,” ujarnya.

 

Muryati menjelaskan bahwa saat dirinya membuka ruang kelas pada pagi hari, kaca sudah dalam kondisi rusak.

 

“Saya datang pagi, buka pintu, dan kaca sudah pecah. Jadi saya tidak mengetahui siapa pelakunya,” jelasnya.

 

Narasi yang Berkembang Dinilai Tidak Berdasar

 

Klarifikasi dari pihak sekolah sekaligus meluruskan informasi yang sebelumnya sempat mengaitkan kejadian tersebut dengan santri dari Ponpes Darussalamah.

 

Faktanya, tidak ada pernyataan resmi dari sekolah yang mendukung narasi tersebut.

Sejumlah poin penting dari keterangan pihak sekolah antara lain:

 

Tidak ada saksi yang melihat langsung kejadian

 

Tidak ditemukan bukti yang mengarah kepada pihak tertentu

 

Tidak pernah ada tuduhan resmi kepada santri

 

Dengan demikian, informasi yang menyebut keterlibatan santri maupun lembaga tertentu dinilai tidak memiliki dasar yang kuat.

 

Masalah Telah Selesai, Sekolah Minta Tidak Diperpanjang

 

Pihak sekolah juga memastikan bahwa persoalan tersebut telah diselesaikan secara internal. Kaca yang rusak telah diperbaiki dan aktivitas belajar mengajar kembali berjalan normal.

 

“Sekarang sudah diganti, tidak ada masalah lagi,” kata Enny.

 

Muryati turut berharap agar isu ini tidak terus diperbesar, karena berpotensi merugikan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan.

 

“Saya berharap ini tidak lagi dibesar-besarkan. Kalau hal kecil terus diangkat, bisa berdampak pada nama baik sekolah maupun pesantren,” ujarnya.

 

Utamakan Kondusivitas dan Penyelesaian Kekeluargaan

 

Sekolah menekankan pentingnya menjaga suasana yang kondusif, khususnya di lingkungan pendidikan. Pendekatan kekeluargaan dinilai menjadi cara terbaik dalam menyikapi persoalan seperti ini.

 

“Yang terpenting adalah anak-anak kita, baik siswa maupun santri, tetap dalam kondisi baik dan nyaman,” pungkasnya.