BANDAR LAMPUNG – AnggotaDPRD Provinsi Lampung,Budiman AS, menyoroti dampak perubahan sosial dan perkembangan teknologi terhadap kehidupan kebangsaan saat menggelar Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kelurahan Tanjung Baru, Kecamatan Kedamaian,Kota Bandar Lampung, Sabtu (31/1).
Dalam kegiatan tersebut, Budiman mengajak masyarakat untuk kembali merawat persatuan dan hidup rukun damai di tengah derasnya arus perubahan zaman. Menurutnya, penguatan ideologi Pancasila menjadi kebutuhan mendesak agar bangsa tidak kehilangan arah.
“Perubahan teknologi bergerak cepat, tapi moral kita tertinggal. Gadget memang memudahkan hidup, tapi juga membuka pintu bagi masalah besar. Geng motor, narkoba, bahkan terorisme hari ini bisa lahir dari layar ponsel,” kata Budiman.
Anggota Komisi I DPRD Lampung yang juga Ketua DPCPartai DemokratKota Bandar Lampung itu menilai, tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Pudarnya nilai Pancasila, kata dia, telah menjadi persoalan nyata yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pancasila jangan berhenti di hafalan. Ia harus hidup di rumah, di sekolah, dan di lingkungan sosial. Kalau keluarga kuat, lingkungan kuat, maka bangsa ini juga kuat,” tegasnya.
Selain menekankan pentingnya penguatan ideologi, Budiman juga meluruskan pemahaman masyarakat terkait kewenangan pemerintahan. Ia menilai, kesalahpahaman publik kerap memicu kritik yang tidak tepat sasaran.
“Contohnya soal jalan rusak di Bandar Lampung. Itu kewenangan wali kota, bukan provinsi. Pemerintah provinsi bekerja dalam skala provinsi, sementara jalan nasional seperti Pangeran Antasari itu anggarannya dari pusat,” jelasnya.
Sosialisasi tersebut turut menghadirkan akademisiUniversitas Lampung, Darmawan Purba, sebagai narasumber. Ia menegaskan pentingnya Pancasila sebagai fondasi utama bangsa di tengah keberagaman.
“Kalau pondasinya kuat, bangunan bangsa ini tidak mudah roboh. Pancasila itulah yang membuat kita bisa hidup berdampingan, tanpa saling mempersoalkan perbedaan suku, agama, maupun latar belakang,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol negara, melainkan harus hadir dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
Acara ditutup dengan refleksi dari moderator Levi Tuzaidi yang mengajak peserta merenungkan keberlangsungan bangsa Indonesia.
“Kerajaan Sriwijaya dengan agama Buddha bertahan sekitar 400 tahun. Majapahit dengan Hindu sekitar tiga abad. Indonesia baru merdeka 80 tahun. Pertanyaannya, mau sampai kapan kita mempertahankan negeri ini?” ucap Levi.













